Easy Access Article

Dark Social: Membedah Traffic Siluman yang Sering Terlupakan

Bayangin lo lagi nongkrong di cafe, terus temen lo nunjukin link sepatu keren lewat chat WhatsApp pribadi. Lo klik, terus lo beli. Nah, di dashboard Google Analytics si penjual sepatu, traffic dari lo itu bakal muncul sebagai “Direct Traffic” atau traffic nggak dikenal. Padahal aslinya itu adalah hasil dari media sosial, cuma lewat jalur pribadi. Inilah yang kita sebut sebagai Dark Social. Analogi gampangnya, ini tuh kayak percakapan di balik pintu tertutup atau di “ruang rahasia” yang nggak bisa diintip sama mata-mata (tools analytics) mana pun.

Kenapa Ini Disebut “Siluman”?

Disebut “gelap” atau “siluman” bukan karena ilegal, tapi karena datanya nggak kelihatan asalnya dari mana. Di tahun 2026, orang makin males share sesuatu di feed publik yang bisa diliat semua orang. Mereka lebih suka share di grup keluarga, grup alumni, atau DM ke temen deket. Menurut riset, hampir 80% sharing konten itu sebenernya terjadi di jalur dark social ini. Kalau lo cuma fokus sama angka “Share” di bawah artikel lo, lo sebenernya cuma liat pucuk gunung es doang.

Pentingnya Bikin Konten yang “Shareable” secara Pribadi

Karena lo nggak bisa liat siapa yang share, strategi digital marketing lo harus fokus pada gimana bikin konten yang emang “enak” buat dikirimin ke temen lewat chat. Konten yang sifatnya solutif, rahasia, atau eksklusif biasanya punya performa tinggi di dark social. Orang ngerasa bangga kalau mereka jadi orang pertama yang ngasih tau info penting ke grup temen-temennya. Ini adalah bentuk baru dari “Word of Mouth” atau promosi mulut ke mulut, tapi versi digital yang lebih kenceng.

Cara Melacak si “Traffic Siluman”

Meskipun susah, bukan berarti nggak bisa dilacak sama sekali. Sebagai praktisi pemasaran digital, lo bisa pake teknik UTM Tracking yang lebih spesifik. Lo juga bisa nyediain tombol share khusus WhatsApp atau Telegram di website lo yang udah dipasangin kode pelacak. Dengan begitu, lo bisa tau kalau orang itu dateng gara-gara link yang dishare di grup chat. Makin banyak data yang lo punya, makin tepat sasaran strategi promosi yang lo jalanin.

Fokus pada Kualitas, Bukan Cuma Viralitas Publik

Jangan cuma terobsesi sama jumlah “Like” atau “Comment” di postingan publik. Kadang-kadang, postingan yang kelihatan sepi di permukaan sebenernya lagi “meledak” di grup-grup WhatsApp pribadi. Inilah alasan kenapa engagement yang sesungguhnya itu bukan cuma soal angka di layar, tapi soal seberapa besar konten lo memicu percakapan nyata antar manusia di ruang-ruang pribadi mereka.

 

Kesimpulan

Dark social adalah bukti kalau manusia tetep mahluk sosial yang suka berbagi secara privat. Jangan remehkan kekuatan link yang disebar di DM atau grup chat. Mulailah bikin konten yang emang pantes buat dijadikan bahan obrolan santai antar temen. Website yang sukses di masa depan adalah website yang nggak cuma bagus di halaman pertama Google, tapi juga sering wira-wiri di grup WhatsApp orang-orang.