Backorder terjadi saat pesanan masuk, tetapi stok belum cukup untuk memenuhinya. ERP membantu dengan mencatat selisih tersebut secara otomatis, menautkannya ke pembelian, lalu memprioritaskan pengiriman begitu barang tiba. Hasilnya, tim tidak perlu menelusuri pesanan tertunda satu per satu lewat spreadsheet.
Kapan Pesanan Berubah Jadi Backorder?

Backorder muncul ketika permintaan pelanggan melebihi stok yang tersedia. Pesanan tetap diterima, tetapi pengirimannya tertunda sampai barang masuk gudang. Kondisi ini wajar pada bisnis distribusi dengan perputaran stok tinggi. Masalah baru timbul ketika pencatatannya tidak rapi.
Sebagai ilustrasi, distributor suku cadang menerima pesanan 200 unit, sementara stok hanya 120. Sisa 80 unit menjadi backorder. Tanpa alur yang jelas, sisa pesanan itu mudah terlewat saat stok baru datang.
Dari contoh itu terlihat bahwa backorder bukan sekadar daftar tunggu. Setiap baris pesanan membawa konsekuensi pada jadwal pembelian, penagihan, dan hubungan dengan pelanggan.
Ketika Backorder Hanya Tercatat di Spreadsheet
Pencatatan manual biasanya tersebar di beberapa file dan grup chat. Tim penjualan punya versi sendiri, tim gudang punya versi lain. Akibatnya, pelanggan bisa dijanjikan tanggal yang tidak bisa dipenuhi. Selisih data juga memperlambat keputusan pembelian.
Risiko lain adalah prioritas yang kabur. Pelanggan yang memesan lebih dulu belum tentu dilayani lebih dulu. Hal ini sering memicu keluhan, terutama dari pelanggan korporat yang bergantung pada pasokan rutin.
Cara ERP Memetakan Pesanan yang Belum Terpenuhi
Pada sistem ERP, pesanan penjualan terhubung langsung dengan data stok. Saat jumlah tersedia kurang, sistem memisahkan sisa pesanan sebagai backorder. Pengiriman parsial bisa diproses tanpa menutup pesanan induknya.
Sisa kebutuhan itu juga dapat memicu permintaan pembelian ke pemasok. Ketika barang diterima, sistem mengalokasikan stok ke backorder sesuai urutan prioritas. Tim penjualan bisa melihat status terbaru tanpa bertanya ke gudang.
Penagihan pun ikut menyesuaikan. Faktur dapat diterbitkan sesuai jumlah yang benar-benar terkirim, sehingga sisa pesanan tidak tertagih lebih dulu. Cara ini menjaga catatan keuangan tetap selaras dengan kondisi gudang.
Memilih ERP terbaik karenanya tidak cukup dengan menghitung jumlah fitur. Yang lebih menentukan adalah apakah alur penjualan, stok, dan pembelian benar-benar terhubung.
Manual versus ERP: Selisihnya di Mana?
Kriteria | Pencatatan Manual | ERP |
Visibilitas status pesanan | Tersebar di banyak file dan chat | Satu data yang sama untuk semua tim |
Alokasi stok saat barang tiba | Dicek satu per satu | Mengikuti aturan prioritas |
Pemicu pembelian | Bergantung pada ingatan staf | Muncul dari kebutuhan backorder |
Estimasi pengiriman | Perkiraan kasar | Mengacu pada jadwal penerimaan barang |
Perbedaan terbesar terletak pada kecepatan informasi. Saat status pesanan jelas, tim penjualan bisa memberi kabar lebih awal kepada pelanggan. Keterlambatan yang diinformasikan sejak awal biasanya lebih mudah diterima.
Langkah Praktis Menyiapkan Alur Backorder
- Tetapkan aturan prioritas, misalnya berdasarkan tanggal pesanan atau kontrak pelanggan.
- Tentukan jenis pelanggan yang boleh menerima pengiriman parsial.
- Hubungkan backorder dengan permintaan pembelian agar kekurangan stok langsung diproses.
- Atur notifikasi ke tim penjualan saat barang diterima.
- Minta vendor ERP mendemokan skenario backorder dengan data nyata perusahaan.
Sebelum konfigurasi dimulai, perusahaan disarankan berkonsultasi dengan konsultan implementasi ERP berpengalaman. Pemetaan alur di awal mencegah aturan prioritas berubah-ubah di tengah proyek.
Pertanyaan yang Sering Muncul
- Apa bedanya backorder dengan stok kosong?
Backorder adalah pesanan yang tetap diterima dan menunggu stok, sedangkan stok kosong hanya menandakan barang tidak tersedia. - Apakah pengiriman parsial selalu diperlukan?
Tidak, keputusannya bergantung pada kebijakan perusahaan dan kesepakatan dengan pelanggan. - Apakah ERP bisa memperkirakan kapan backorder terpenuhi?
ERP dapat memberi estimasi berdasarkan jadwal penerimaan barang dari pemasok yang sudah tercatat.
Arah Pengelolaan Pesanan ke Depan
Pengelolaan backorder bergerak dari pencatatan reaktif menuju alur yang terhubung dengan stok dan pembelian. Perusahaan yang ingin merapikan proses ini dapat merujuk pada pengalaman i2C Studio sebagai konsultan dan partner implementasi Odoo. Pendekatan yang lazim dimulai dari pemetaan proses, bukan dari daftar fitur. Dengan fondasi tersebut, ERP membantu menekan pesanan tertunda tanpa membuat alur kerja makin rumit.




