Easy Access Article

Inilah Jenis Tanda Tangan Elektronik Paling Sah Secara Hukum

Era transformasi digital memaksa setiap sektor bisnis untuk bergerak secara cepat dan efisien. Dokumen fisik yang dulunya memakan waktu berhari-hari untuk dikirim dan disahkan, kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini memunculkan risiko baru terkait keabsahan dan keamanan integritas data. Banyak perusahaan terjebak menggunakan metode persetujuan digital asal-asalan yang rentan terhadap pemalsuan maupun manipulasi data. Oleh karena itu, memahami klasifikasi dan kekuatan hukum dari setiap persetujuan digital menjadi langkah mitigasi yang sangat mendesak untuk mencegah kerugian finansial dan sengketa hukum di masa depan.

Pembahasan Utama: Anatomi dan Klasifikasi Persetujuan Digital

Secara global maupun yurisdiksi lokal, legalitas persetujuan digital tidak bisa dipukul rata. Terdapat hierarki keamanan yang harus dipenuhi sebelum sebuah dokumen diakui secara sah di mata hukum.

Tingkat paling dasar adalah versi sederhana (Simple). Metode ini serupa dengan menempelkan gambar pindaian goresan pena ke atas dokumen PDF. Sangat praktis untuk dibuat, namun memiliki daya pembuktian hukum yang sangat lemah. Analogi sederhananya seperti memfotokopi stempel perusahaan dan menempelkannya di sembarang kertas; siapa pun yang memiliki gambar tersebut dapat melakukannya tanpa persetujuan pemilik asli.

Beranjak ke tingkat kedua, terdapat versi lanjutan (Advanced). Model ini sudah mengadopsi teknologi kriptografi asimetris untuk mengikat identitas penanda tangan langsung dengan isi dokumen. Pendekatan ini ibarat mengirimkan surat penting menggunakan segel lilin khusus. Apabila ada pihak tidak bertanggung jawab yang mencoba meretas atau mengubah isi dokumen setelah ditandatangani, sistem akan langsung memberikan notifikasi peringatan layaknya segel lilin yang rusak.

Tingkat tertinggi sekaligus standar emas dalam industri adalah versi tersertifikasi (Qualified/Certified). Sistem persetujuan ini mewajibkan penggunaan sertifikat elektronik yang diterbitkan secara eksklusif oleh lembaga terpercaya yang telah diaudit oleh pemerintah. Dengan verifikasi identitas yang ketat, kekuatan pembuktian dari tanda tangan elektronik jenis ini di pengadilan diakui setara dengan akta otentik fisik berupa goresan pena basah. Standar inilah yang wajib diimplementasikan oleh sektor perbankan, kesehatan, hingga asuransi.

Langkah Praktis Implementasi bagi Perusahaan

  • Terapkan Pendekatan Berbasis Risiko: Jangan pernah menggunakan versi pindaian sederhana untuk kontrak perjanjian bernilai miliaran rupiah. Sesuaikan jenis perlindungan dengan tingkat risiko dokumen.
  • Verifikasi Status Legalitas Vendor: Pastikan platform yang dipilih terdaftar dan diakui secara resmi oleh regulator terkait sebagai penyedia layanan yang sah secara hukum.
  • Fokus pada Pengalaman Pengguna (API): Pilih infrastruktur yang menyediakan integrasi API yang mulus. Tujuannya agar proses penandatanganan dapat dilakukan langsung melalui sistem internal (ERP/HRIS) perusahaan tanpa mengganggu alur kerja operasional.
  • Aktifkan Autentikasi Ganda (2FA): Wajibkan lapisan keamanan tambahan berupa kode OTP atau biometrik sesaat sebelum pihak eksternal maupun internal menyetujui sebuah dokumen penting.

Pertanyaan Umum Seputar Legalitas

Q: Apakah menempelkan hasil scan tanda tangan di PDF sah secara hukum? A: Sah sebagai tanda kesepakatan awal, tetapi memiliki nilai pembuktian yang sangat lemah. Jika terjadi sengketa di kemudian hari, pihak lawan dapat dengan mudah menyangkal keasliannya.

Q: Apa perbedaan utama antara sistem lanjutan (Advanced) dan tersertifikasi (Certified)? A: Keduanya menggunakan algoritma enkripsi keamanan, namun versi tersertifikasi melibatkan pihak ketiga yang diakui negara (PSrE) untuk memvalidasi identitas subjek hukum secara mutlak.

Q: Bisakah isi kontrak yang sudah disahkan secara elektronik direvisi kembali? A: Dokumen dapat diedit secara teknis, namun sistem kriptografi akan langsung mendeteksi perubahan tersebut dan menggugurkan validitas dokumen, menjadikannya cacat hukum seketika.

 

Kesimpulan

Beralih dari dokumen kertas ke ekosistem digital bukanlah sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan operasional mendasar untuk menjaga kelancaran bisnis serta memitigasi risiko hukum. Memilih arsitektur persetujuan yang kurang tepat justru akan membuka celah penipuan yang fatal. Sebagai rekomendasi strategis, ezSign hadir sebagai solusi profesional yang menyediakan infrastruktur pengesahan dokumen digital komprehensif, aman, dan patuh terhadap regulasi standar industri. Mengandalkan platform kredibel merupakan langkah cerdas untuk menjamin keamanan tingkat tinggi pada setiap aset digital berharga.