Easy Access Article

Marketing Funnel: Analogi PDKT Sampai Pelaminan

Pernah nggak lo liat cewek cantik di jalan, terus lo tiba-tiba lari nyamperin dia dan langsung teriak, “Mbak, nikah yuk sama saya!”? Pasti lo bakal digampar atau minimal dianggap orang gila. Nah, di dunia digital marketing, banyak pebisnis pemula yang ngelakuin kesalahan yang sama. Mereka baru pasang iklan atau bikin website, eh langsung maksa orang buat beli. Padahal, jualan itu ada prosesnya, yang kita sebut sebagai Marketing Funnel. Analogi gampangnya, ini tuh proses PDKT sampai akhirnya lo berdua duduk di pelaminan.

Tahap Awareness: Fase Kenalan

Ini adalah tahap paling atas di corong (funnel). Di sini, calon pembeli bahkan belum tahu kalau brand lo itu eksis. Tugas lo di sini bukan jualan, tapi cuma “kenalan”. Lo bisa lewat konten edukasi di TikTok, postingan bermanfaat di Instagram, atau artikel SEO yang informatif. Sasarannya adalah biar mereka tahu muka lo dulu. Jangan langsung jualan keras, cukup bikin mereka sadar kalau lo punya solusi buat masalah mereka. Kalau dalam PDKT, ini tahap lo cuma lewat di depannya atau sekadar saling follow di medsos.

Tahap Consideration: Fase Chatting & Jalan Bareng

Setelah mereka tahu lo ada, sekarang saatnya lo bikin mereka tertarik. Di tahap ini, calon pembeli mulai banding-bandingin lo sama kompetitor. Mereka mulai baca-baca testimoni, liat review produk, atau baca artikel perbandingan. Tugas lo adalah meyakinkan mereka kalau lo adalah pilihan terbaik. Kasih mereka alasan kenapa harus lo, bukan orang lain. Analogi PDKT-nya, ini fase lo udah dapet nomor WhatsApp-nya, mulai sering chatting, dan sesekali jalan bareng buat liat kecocokan.

Tahap Conversion: Fase Jadian (Penjualan)

Nah, ini dia puncaknya. Setelah lo ngerasa dia udah nyaman dan percaya, baru lo “tembak” atau lo ajak nikah. Di digital marketing, ini adalah saat lo kasih promo khusus, diskon terbatas, atau tombol “Beli Sekarang” yang jelas. Karena lo udah bangun kepercayaan di awal, mereka nggak bakal ragu buat ngeluarin dompet. Prosesnya jadi lebih halus dan probabilitas buat diterima (beli) jauh lebih tinggi dibanding lo langsung nodong di awal tadi.

Tahap Retention: Jaga Hubungan Biar Nggak Cerai

Banyak orang lupa kalau setelah jadian, perjuangan belum selesai. Lo harus tetep ngerawat hubungan itu biar dia nggak lari ke orang lain. Kasih layanan purna jual yang oke, kasih diskon buat pembelian kedua, atau kirim email ucapan ulang tahun. Di dunia pemasaran digital, menjaga pelanggan lama jauh lebih murah dibanding nyari pelanggan baru dari nol lagi.

 

Kesimpulan

Marketing funnel itu soal sabar dan strategi. Jangan buru-buru pengen dapet cuan kalau lo belum bangun kepercayaan. Dengan ngikutin alur corong yang bener, lo bakal punya sistem penjualan yang lebih stabil dan nggak gampang tumbang. Jualan itu seni ngerayu secara digital, jadi pastiin rayuan lo masuk akal dan nggak maksa.